Selasa, 20 November 2012

Menghampiri Jakarta

   Setelah lelah berkutat di depan komputer dengan segudang data yang harus di rapikan, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kesejukan dan keindahan Bandung untuk sejenak.

   Jakarta, tujuanku sore itu. Kenapa aku memilih Jakarta? Alasannya adalah, dengan waktu yang singkat dan uang yang tak terlalu banyak, serta banyak keluarga di sana. Selain refreshing juga tetap menjaga silaturahmi. :)

   Tiba di tujuan (Rumah Nenek) memang sudah malam, dan  tanpa basa basi langsung ku rebahkan badanku ke atas kasur yang tak terlalu empuk, tentu setelah menikamti segelas teh hangat buatan Nenek tercinta. Tak terasa akhirnya aku terlelap dengan sedikit gangguang nyamuk-nyamuk nakal.

  Keesokan harinya, ku awali hari dengan mengunjungi pasar untuk berbelanjar sayur bersama salah satu bibi (Sepupu Ibu). Dan apa yang kami beli saat itu? Benar saja, sayur asem, ikan asin dan tentu saja tempe serta bahan sambal.

  Singkat cerita, setiba di rumah nenek langsung kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Bersih sudah badanku makanan pun sudah siap, selanjutnya adalah menikmati makan dalam rasa Betawi. :)

   Siang hari yang panas kami isi dengan senda gurau dan tak lupa, ber-exis-ria.



Nenek a.k.a Emak

  *Kalo mao ngambil foto Babah (sapaan untuk Kakek), jangan ampe die tau.(saran Nenek/Emak dengan logat betawi kental)

  dan ini hasil candid-ku. 


Kakek a.k.a Babah


   Sebagian keponakan yang tidak mau ketinggalan berpose.


Sebagian kepoanakan


   Dan pada akhirnya setiap pertemuan pasti ada akhirnya, keceriaan dan kehangatan yang terlahir dari waktu yang singkat itu harus berakhir. Semua harus kembali pada rutinitas seperti biasanya.
   Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal nenek, Kakek serta semua kerabat yang tak sempat aku kunjungi satu persatu.
   Always Love & Miss you ;-*

Rabu, 26 September 2012

Satu Rindu "Ibu"

  "Nina, masuk nak!" Seru seorang Ibu dari balik pintu rumah bilik itu.
  "Iya Ibu, sebentar lagi." Jawab gadis kecil yang sedang asyik bermain dengan hujan.
Nampak keceriaan yang sangat di raut wajah sang gadis. Sikapnya mengingatkanku saat aku masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Setiap hujan turun, aku tak pernah absen bermain dengan "nya". Ibu yang terlanjur lelah menasehatiku agar jangan terlalu sering bermain hujan, hanya mampu mengawasiku dari balik pintu.
  Seusai bermain dengan hujan, segelas coklat hangat dan pisang goreng sudah menanti di atas meja. Ibu memang tak terhingga baiknya. Namun kini, semua itu hanya tinggal kenangan, Ibu telah pergi di saat hujan deras mengguyur desaku 10 Tahun yang lalu. Petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang seakan mampu menerbangkan apapun yang ada di sekitarnya.
  Saat itu tepat pukul 7 malam, hujan semakin deras dan angin masih bertiup kencang. Tiba-tiba terdengar suara seperti bom meledak, aku yang saat itu masih berusia 10 tahun ketakutan tak terbendung. Ibu mendekapku erat berusaha menenangkanku. Banyak orang yang keluar rumah untuk mengetahui suara apa yang terdengar. Tak lama kemudian banyak orang lari terbirit-birit sambil berteriak histeris.
  Ternyata, bendungan di ujung desa tak mampu menahan air dari sungai,dan banjir bandang terjadi. Air dengan cepat menyapu semua yang ada di depannya, tak terkecuali rumahku yang saat itu hanya ada aku dan ibu karena Ayah memang jarang berada di rumah. Setauku dia bekerja di kota. Air menyapu rumah kami, aku dan ibu yang tak sempat menyelamatkan diri pasrah dengan segala kemungkinan yang terjadi. Aku tak merasakan apa-apa, yang aku rasakan hanyalah hangat dekapan Ibu. Kehangatan yang masih terasa sampai sekarang, walaupun hanya dalam ingatanku saja.
  Tiga hari setelah kejadian itu, aku tersadar tengah berada di tempat yang asing. Tempat yang belum pernah aku masuki sebelumnya.
   "Ibu..." Teriakku ketakutan mencari Ibu.
   "Adek..tenang ya, Ibu adek ada di ruangan sebelah. Sekarang adek ada di Puskesmas, istirahat yang tenang ya, biar cepat sembuh." Ujar seorang perawat menenangkanku.
   "Tapi Ibu mana mba?? Ratna takut." Rengekku.
   "Besok saja ya, sekarang adek tidur lagi saja." Bujuknya
   "Janji ya mba...!!" "Iya adek manis." Keesokan harinya aku merasa lebihi fresh dan segar, dan tanpa pikir panjang, aku segera turun untuk mencari ibuku.
   "Ibu...Ibu dimana?" Teriakku lirih Tak ada yang menjawab, semua sibuk dengan urusannya masing-masing.
  Ya, saat ini aku masih berada di Puskesmas yang cukup jauh dari desaku. Di sini banyak orang dimana-mana. Banyak yang menangis kesakitan, ada yang sedang di jahit lengannya. Aku masih belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
  "Ada apa ini" pikirku.
  "Loh, adek kok jalan-jalan." Terdengar suara perawat yang kemarin.
  "Aku mau nyari Ibu, mba." Jawabku lirih Perawat itu memang tampak masih muda, mungkin seumuran dengan kakak perempuanku yang meninggal 4 tahun yang lalu.
  "Ayo mba antar cari Ibu nya." Ajaknya. Aku berkeliling di dalam ruangan dan keluar ruangan untuk mencari ibu. Namun tak kunjung kutemui.
  "Nama Ibu Adek siapa? barang kali mba bisa bantu cari di data puskesmas." Tanyanya
  "Nama Ibuku, Rosyidah mba, mba kenal sama Ibuku?" Tanyaku Perawat tadi terdiam sesaat aku menyebut nama Ibuku.
  "Mba kenapa diam?"Tanyaku lagi
  "Adek yang tabah ya. Ibu adek sudah di makamkan dua hari yang lalu, saat adek belum sadarkan diri di ruang perawatan." Jelasnya
  "Mba bohong kan? Ibuku masih hidup kan? aku tau kemarin malam Ibu memelukku saat aku tidur. Mba pasti bohong." Elakku sambil menangis.
  "Mba ngga bohong, Ibu adek sudah dimakamkan dua hari yang lalu karena lukanya yang teralu parah saat melindungi adek dari terjangan banjir bandang kemarin."
  "Ibu....kenapa Ibu pergi." Teriakku sambil menangis terisak-isak.

  Kini, banjir bandang itu sudah lewat 10 tahun yang lalu, 10 tahun aku di tinggal Ibu, 10 tahun pula aku tak pernah bertemu ayah yang katanya bekerja di kota. 10 tahun aku tinggal bersama mba Putri yang setia menjalani pekerjaanya sebagai perawat orang sakit, tanpa upah, tanpa gaji. 10 Tahun pula aku selalu menitipkan rinduku pada Hujan untuk Ibu.
  "Ibu, aku percaya di setiap hujan yang turun, di situlah Engkau mendekapku."

Kamis, 24 Mei 2012

7 Alasan Mengapa Anda Layak Sukses


Sukses adalah hak semua orang. Semua orang punya kesempatan dan peluang yang sama untuk meraih kesuksesan. Tapi ada kalanya kita tidak yakin dengan kemampuan diri kita untuk meraihnya. Bahkan tidak sedikit orang yang merendahkan dirinya, merasa dirinya tidak pantas dan tidak layak, merasa tidak percaya diri dan lain sebagainya. Padahal sukses bisa menjadi milik siapa pun asalkan mereka mau berusaha dan berani bermimpi untuk itu.
Ada 7 alasan mengapa Anda layak untuk sukses:
1. Keajaiban terus terjadi
Pernahkah Anda melihat rekor dunia? Mengapa itu bisa terjadi? Tidak lain adalah karena peristiwa tersebut sangat fantastis dan bisa dibilang sangat tidak masuk akal. Tapi kenyataannya itu benar-benar terjadi di dunia ini. Dan hebatnya rekor-rekor lama terus bertumbangan oleh rekor-rekor baru. Hal ini membuktikan betapa dahsyatnya potensi manusia dalam menciptakan keajaiban. Kita sendiri tidak tahu sampai mana batas kemampuan diri kita yang sebenarnya karena keajaiban terus saja terjadi.
2. Sukses bukan barang mewah
Apakah sukses hanya akan menjadi milik orang kaya, yang punya segunung uang, yang punya modal besar dan harta melimpah? Pikirkan sekali lagi. Sudah banyak contoh dan bukti di mana orang-orang yang dulunya biasa-biasa, bahkan hidup susah tapi akhirnya bisa menjadi sukses. Di Amerika sendiri, survei menunjukkan lebih dari 80% orang-orang kaya adalah self-made millionaire alias kaya dari nol atau usaha sendiri, bukan dari warisan orang tua.
3. Tuhan tidak pernah menstempel Anda sukses atau gagal
Begitu kita dilahirkan, Tuhan tidak pernah memberi stempel di kepala Anda apakah Anda akan menjadi orang sukses atau pecundang. Tapi kita diberi kemampuan untuk memilih. Dan pilihan yang kita ambil itulah yang akan menentukan siapa diri kita di masa mendatang. Sukses atau gagal bukan ditentukan orang lain atau apa pun, melainkan diri Anda sendiri. Anda sukses karena itu pilihan Anda. Anda gagal juga karena pilihan yang Anda ambil. Jadi, apa pilihan Anda?
4. Sudah banyak yang membuktikannya
Siapa pun berhak untuk hidup sukses. Hal ini sudah dibuktikan semua orang dari berbagai kalangan, profesi dan latar belakang, miskin kaya, tua muda, wanita pria dan semua orang lainnya sudah pernah meraih sukses. Baca saja kisah orang-orang yang telah sukses. Anda akan tahu bahwa mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Jadi, bisa dikatakan bahwa sukses bukanlah untuk orang-orang tertentu saja. Semua orang diberi kesempatan yang sama untuk sukses.
5. Manusia diberi potensi yang tak terbatas
Pada zaman dulu, hidup manusia serba terbatas. Tapi, perlahan hidup manusia mengalami kemajuan. Bahkan dulunya kita tak pernah menyangka kita bisa hidup di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini. Mengapa bisa begitu? Tidak lain adalah karena hasil pikiran manusia. Potensi manusia sangatlah besar hampir tak terbatas sehingga manusia bisa menciptakan perubahan yang jauh lebih baik dari waktu ke waktu.
Siapa yang dulu pernah menyangka ada benda yang bisa terbang? Siapa yang pernah menyangka pergi ke luar angkasa itu mungkin? Siapa yang pernah menyangka berbicara dengan orang lain dari jarak yang cukup jauh adalah mungkin? Dulunya tidak mungkin. Tapi sekarang, itu semua sudah biasa. Dengan potensi manusia yang tak terbatas, kita tak tahu apa lagi yang akan terjadi di masa mendatang.
6. Banyak sumber pembelajaran
Di zaman dulu, kalau ingin sukses, kita harus mencoba sendiri melalui proses trial dan error. Dulu, tidak ada seminar dan pelatihan motivasi, buku-buku pengembangan diri, audio motivasi, mentoring dan sumber-sumber lainnya. Dulu, itu semua susah didapat. Tapi sekarang kita bisa mendapatkan dan mengaksesnya semudah makan dan minum. Seminar, pelatihan, buku dan alat pengembangan diri lainnya bisa mempercepat kesuksesan kita karena hasil pengalaman mereka semuanya selama bertahun-tahun dituangkan dalam bentuk buku, seminar dan pelatihan. Jadi, kita tidak perlu meraba-raba dan terperangkap proses yang memakan waktu. Semua ilmu mereka bisa kita serap dan lahap, dan bisa kita manfaatkan untuk meraih kesuksesan kita. Luar biasa, kan?
7. Anda sangat berharga
Diri kita sungguh berharga. Sudah selayaknya Anda meraih sesuatu yang berharga dalam hidup ini. Sudah sepantasnya Anda meraih apa yang pantas Anda dapatkan. Anda adalah unik, tidak ada orang yang sama persis seperti Anda di masa lalu dan tidak akan ada orang yang sama persis seperti Anda di masa depan. Itu sudah pasti.
Tahukah Anda mengapa barang antik dan limited edition itu sangat mahal? Karena jumlahnya terbatas. Anda malah paling berharga karena Anda hanya satu-satunya di dunia ini. jadi, jangan merendahkan diri dan jangan buat diri Anda minder. Anda layak sukses. Jangan katakan Anda tidak layak. Karena kita diciptakan sama. Anda sendirilah yang selalu menilai apa yang pantas dan tidak pantas Anda dapatkan.
Dengan adanya 7 alasan di atas, alasan apalagi yang akan menghalangi Anda meraih sukses? Seharusnya tidak ada! Mari perjuangkan mimpi Anda dan terbanglah setinggi angkasa dan selamlah sedalam samudera untuk meraih apa pun yang selama ini tidak berani Anda impikan.

Sabtu, 19 Mei 2012

Kehangatan di Terasingan

Kembali ku di terasingan ini
Kembali pula ku di suguhi setitik air mata langit
Tak apa karena aku suka padanya
Tak apa karena aku cinta padanya

Namun kesejukan yang dia bawa
kembali mengingatkanku pada hangatnya kasih sayang Keluarga
Pada hangatnya dekapan Bunda
Pada hangatnya perlindungan Ayah
Pada hangatnya sendau gurau bersama saudara

Tapi aku adalah wanita kuat
Akulah sang wanita hebat
Karena aku harus...